Bunggo | Meriam Bambu


Posted by: Fherdy Lumenta, A.Md

Ada satu permainan khas masyarakat gorontalo saat memasuki ramadhan atau menjelang Hari Raya Idul Fitri. Permainan yang menjadi tradisi masyarakat gorontalo ini adalah Meriam Bambu atau dalam bahasa daerah gorontalo di sebut Bunggo. Permainan ini memerlukan bambu pilihan yang setiap ruas dalamnya dilubangi, kecuali ruas paling ujung, dengan diameter ukuran bambunya bermacam – macam. Dentuman bunggo dapat kita dengar hanya pada Bulan Ramadhan atau menjelang Hari Raya Idul Fitri, selebihnya atau di bulan – bulan lain tidak ada. Tak heran jika Anda berada di daerah gorontalo pada saat ramadhan, rasanya seperti berada di medan perang, terdengar dentuman meriam di mana – mana. Bunggo merupakan permainan rakyat dan tradisi leluhur yang sudah turun temurun dan sejak berabad – abad tahun yang lalu.

Permainan unik ini dimainkan pada saat – saat menjelang waktu santap sahur dan sore hari menjelang berbuka puasa. Kadang siang hari pun akan terdengar dentumannya. Permainan ini dimainkan oleh semua kalangan, baik dari anak – anak, remaja bahkan orang dewasa sekalipun. Mereka berkumpul di tanah lapang atau lahan sawah yang luas untuk menyalakan meriam bambu atau bunggo ini. Bunyi dari bunggo yang cukup nyaring seolah mengajak warga untuk segera makan sebelum waktu imsak tiba. Lokasi arena meriam bambu sengaja dibuat agak jauh dari permukiman agar tidak terlalu mengagetkan orang.

Permainan khas rakyat gorontalo ini, tidak memerlukan biaya banyak untuk membuatnya. Hanya 1 ujung bambu pilihan yang di potong hingga ruas bambu yang diperlukan hanya sekitar 5 atau 6 ruas, panjangnya mencapai 1 hingga 1,5 m. Kemudian setiap ruas bambu tersebut dilubangi hingga keujung bagian depannya. Yang tertutup tinggal ruas bambu bagian belakang yang bertujuan untuk menahan bahan bakarnya. Pada bagian belakang bambu ini di lubangi sebagai tempat menyalakan bunggo. Cara memainkannya seperti meledakkan meriam pada masa perjuangan melawan penjajah Belanda.

BUNGGOPermainan Khas Gorontalo, Bunggo

Lubang kecil pada bambu diisi dengan minyak tanah, hingga bahan bakar ini menggenang di dalam ruas bambu. Lalu disulut api hingga mengeluarkan bunyi ledakan. Semakin panas bunggo tersebut semakin keras ledakannya. Tradisi membunyikan bunggo pada Bulan Ramadhan hingga kini masih sangat kental di masyarakat gorontalo. Perlu adanya pelestarian dari budaya ini dan menjadikannya aset pariwisata dan seni budaya bangsa indonesia.

Tahun 2009 merupakan tonggak sejarah dari permainan rakyat ini. Mengapa? Iven Budaya Nasional yang dikemas dalam “Festival 1000 Bunggo” atau lomba meriam bambu dipastikan akan memeriahkan penghujung Ramadhan di Gorontalo Tahun 2009, dan ini merupakan yang pertama kalinya di gelar di daerah gorontalo dengan mengangkat sebuah tradisi masyarakat gorontalo, Bunggo. Penggagas festival seni budaya tersebut adalah organisasi Moawota”. Festival 1000 Bunggo akan dilaksanakan pada tanggal 17 hingga 18 September 2009. Visit Gorontalo Now.

By parbudkominfo Posted in Sejarah

Tradisi Tumbilotohe


Posted by: |   Fherdy Lumenta, A.Md
Tumbilotohe yang dalam arti bahasa gorontalo terdiri dari kata tumbilo” berarti pasang dan kata “tohe” berarti lampu, yaitu acara menyalakan lampu atau malam pasang lampu. Tradisi ini merupakan tanda bakal berakhirnya bulan suci Ramadhan, telah memberikan inspirasi kemenangan bagi warga Gorontalo. Sebelum menyambut kemenangan di hari Raya Idul Fitri, di tengah nuansa kemenangan, langit gelap karena bulan tidak menunjukkan sinarnya. Warga kemudian meyakini bahwa saat seperti itu merupakan waktu yang tepat untuk merefleksikan eksistensi diri sebagai manusia. Hal tersebut merupakan momentum paling indah untuk menyadarkan diri sebagai fitrah ciptaan Allah SWT. Menurut sejarah kegiatan Tumbilo tohesudah berlangsung sejak abad XV, sebagai penerangan diperoleh dari damar, getah pohon yang mampu menyala dalam waktu lama. Damar kemudian dibungkus dengan janur dan diletakkan di atas kayu.

Tradisi Tumbilo Tohe ini dilaksanakan pada 3 malam terakhir menjelang Hari Raya Idul Fitri, yaitu pada tanggal 27 hingga 30 Ramadhan, Ini merupakan tanda bakal berakhirnya bulan suci Ramadhan. Pemasangan lampu dimulai dari maghrib hingga pagi hari. Di masa lampau, pelaksanaan Tumbilotohe dimaksudkan untuk memudahkan umat Islam dalam memberikan zakat fitrah pada malam hari. Pada masa itu, lampu penerangan masih terbuat dari damar dan getah pohon yang mampu menyala dalam waktu lama. Seiring dengan perkembangan zaman dan berkurangnya damar, maka bahan lampu buat penerangan diganti dengan minyak kelapa, yang dikenal dengan lampu padamala dan kemudian diganti dengan minyak tanah. Lampu yang digunakan sekarang umumnya terbuat dari botol atau kaleng bekas yang bagian tutupnya dipasangi sumbu. Sumbu yang dipakai adalah sumbu kompor (kompor minyak).

Saat malam tiba, “ritual” Tumbilotohe dimulai. Kota tampak terang benderang. Nyaris tidak ada sudut kota yang gelap. Keremangan malam yang diterangi cahaya lampu – lampu botol di depan rumah- rumah penduduk tampak mempesona. Kota Gorontalo berubah semarak karena lampu – lampu botol tidak hanya menerangi halaman rumah, tetapi juga menerangi halaman kantor, masjid. Tak terkecuali, lahan kosong petak sawah hingga lapangan sepak bola dipenuhi dengan cahaya lampu botol. Masyarakat seolah menyatu dalam perasaan religius dan solidaritas yang sama. Di lahan – lahan kosong nan luas, lampu – lampu botol itu dibentuk gambar masjid, kitab suci Al Quran, sampai tulisan kaligrafi. Lampu – lampu ini di pasang berjejer di depan rumah, di pagar, maupun di pinggir jalan mirip jemuran. Jumlahnya pun beragam, tergantung dari luas halaman rumah.

Tumbilotohe menjadi semacam magnet bagi warga pendatang, terutama warga kota tetangga, Manado, Palu, dan Makassar. Banyak warga yang mengunjungi Gorontalo hanya untuk melihat Tumbilo tohe. Sepanjang perjalanan di daerah Gorontalo maka kita akan menyaksikan Tumbilo tohe dari berbagai ragam bentuk. “Sangat indah apabila kita berjalan pada malam hari” itulah ungkapan pada kebanyakan orang yang memanjakan mata sepanjang perjalanan.

Beberapa atribut yang menjadi pelengkap dalam tradisi tumbilotohe, di antaranya sebagai berikut :

  1. Tohe

Ini atribut yang paling penting, Tohe artinya Lampu. Terbuat dari botol bekas atau minuman kaleng. Dan ini ribuan jumlahnya. Dipakai sumbu kompor, dan di gantung pada sepotong kayu atau kawat yang berjejer. Ada juga yang diletakkan diatas tanah, Semakin banyak lampunya, semakin indah kelihatan.

  1. Alikusu

Kerangka pintu gerbang dalam bahasa gorontalo disebut Alikusu. Alikusu terdiri dari bambu kuning, dihiasi janur, pohon pisang, tebu & lampu minyak yang diletakkan di pintu masuk rumah, kantor, mesjid dan pintu gerbang perbatasan suatu daerah. Pada pintu gerbang terdapat bentuk kubah mesjid yang menjadi simbol utama alikusu. Warga menghiasi Alikusu dengan dedaunan yang didominasi janur kuning. Di atas kerangka itu digantung sejumlah buah pisang sebagai lambang kesejahteraan dan tebu lambang keramahan, dan kemuliaan hati menyambut Idul Fitri.

  1. Bunggo

Bunggo adalah meriam bambu. Ini merupakan permainan favorit masyarakat gorontalo di bulan puasa. Saling balas, saling adu kerasnya bunyi meriam bambu menjadi khas dalam permainan bunggo. Bunggo terbuat dari bambu pilihan yang dilubangi kecil itu sebagai tempat menyulut api hingga bisa mengeluarkan bunyi letusan. Sembari menggempur kampung dengan bunyi meriam, para remaja dan anak-anak berseru membangunkan warga agar tidak kebablasan tidur. Selengkapnya tentang Bunggo, dapat Anda baca di sini

  1. Tonggolo’opo

Lampion Bambu dalam bahasa Gorontalo disebut Tonggolo’opo. Terbuat dari bambu besar yang ujungnya dibelah sesuai besarnya diameter bambu, dan didalamnya di letakkan batok kelapa. Sehingga membentuk jari – jari yang nantinya akan di balut dengan kertas warna – warni. Dan di dalamnya di pasang lampu botol.

  1. Morongo

Obor dalam bahasa Gorontalo disebut Morongo. Penerang jalan yang terbuat dari sepotong bambu kuning atau sejenisnya yang berdiameter kecil, sedang dan besar tergantung dari si pembuat, dan didalamnya di isi minyak tanah serta sumbu yang terbuat dari kain atau sabut kelapa kering, Morongo ini banyak digunakan oleh anak – anak atau remaja masjid yang turut memeriahkan malam ritual Tumbilo tohe.

Masih banyak kreasi dan atribut yang menjadi pelengkap malam pasang lampu (Tumbilotohe) di Gorontalo. Kelima atribut di atas adalah yang paling menonjol dan paling banyak di gunakan masyarakat gorontalo. Setelah melalui tahapan dari menggunakan damar, minyak kelapa, kemudian minyak tanah, Tumbilo tohe ini mengalami pergeseran seni budaya. Hampir sebagian warga mengganti penerangan dengan lampu kelap – kelip dalam berbagai warna memakai jasa listrik. Akan tetapi, sebagian warga masih mempertahankan nilai tradisional, yaitu memakai lampu botol yang dipajang di depan rumah pada sebuah kerangka kayu atau bambu. Mari lestarikan budaya daerah gorontalo. Akankah kita biarkan tradisi ini hanya menjadi dongeng buat anak cucu kita kelak.?

Anda Ingin menyaksikan tradisi unik masyarakat gorontalo “Tumbilotohe” Ramadhan kali ini? Ingin menyaksikan Festival Tumbilotohe..? VISIT GORONTALO NOW

Cara Memasang Widget untuk Mengetahui Pengunjung Blog


Posted by: | Fherdy Lumenta, A.Md

Feedjit (Widget untuk Mengetahui Pengunjung Blog) | Untuk mengetahui siapa dan dari mana saja pengunjung blog kita, kita dapat menggunakan Widget yang satu ini. widget ini juga membantu kita untuk mengetahui waktu kunjungan di blog.
Langkah pemasangan Widget ini pada WordPress dan Blogspot tidak sama, karena WordPress.com tidak mengizinkan kode Javascript, oleh sebab itu pada tutorial ini akan saya bahas cara memasang Feedjit di WordPress.com dan Blogspot.com

Berikut langkah memasang Widget untuk Mengetahui Pengunjung Blog :

  • Memasang di WP.com :
  1. Masuk ke http://feedjit.com/joinimg/, akan muncul halaman awal dari website penyedia.
    Tutorial Blog, Feedjit
  2. Tentukan lebar dan berapa entri yang ingin Sobat tampilkan, lalu klik Apply.
    Tutorial Blog, Feedjit
  3. Selanjutnya, copy kode dalam kotak
    Tutorial Blog, Feedjit
  4. Lalu paste ke dalam widget Sobat. dan klik Save.
    Tutorial Blog, Feedjit
    selesai

GORONTALO TEMPOE DOELOE


Posted by: | Fherdy Lumenta, A.Md

Gorontalo Tempo Dulu

Menurut sejarah, Jazirah Gorontalo terbentuk kurang lebih 400 tahun lalu dan merupakan salah satu kota tua di Sulawesi selain Kota Makassar, Pare-pare dan Manado. Gorontalo pada saat itu menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur yaitu dari Ternate, Gorontalo, Bone. Seiring dengan penyebaran agama tersebut Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan masyarakat di wilayah sekitar seperti Bolaang Mongondow (Sulut); Buol Toli-Toli, Luwuk Banggai, Donggala (Sulteng) bahkan sampai ke Sulawesi Tenggara.Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan karena letaknya yang strategis menghadap Teluk Tomini (bagian selatan) dan Laut Sulawesi (bagian utara).

Kedudukan Kota Kerajaan Gorontalo mulanya berada di Kelurahan Hulawa Kecamatan Telaga sekarang, tepatnya di pinggiran sungai Bolango. Menurut Penelitian, pada tahun 1024 H, kota Kerajaan ini dipindahkan dari Keluruhan Hulawa ke Dungingi Kelurahan Tuladenggi Kecamatan Kota Barat sekarang. Kemudian dimasa Pemerintahan Sultan Botutihe kota Kerajaan ini dipindahkan dari Dungingi di pinggiran sungai Bolango, ke satu lokasi yang terletak antara dua kelurahan yaitu Kelurahan Biawao dan Kelurahan Limba B.

Dengan letaknya yang stategis yang menjadi pusat pendidikan dan perdagangan serta penyebaran agama islam maka pengaruh Gorontalo sangat besar pada wilayah sekitar, bahkan menjadi pusat pemerintahan yang disebut dengan Kepala Daerah Sulawesi Utara Afdeling Gorontalo yang meliputi Gorontalo dan wilayah sekitarnya seperti Buol ToliToli dan, Donggala dan Bolaang Mongondow.

Sebelum masa penjajahan keadaaan daerah Gorontalo berbentuk kerajaan-kerajaan yang diatur menurut hukum adat ketatanegaraan Gorontalo. Kerajaan-kerajaan itu tergabung dalam satu ikatan kekeluargaan yang disebut “Pohala’a“. Menurut Haga (1931) daerah Gorontalo ada lima pohala’a :

1. Pohala’a Gorontalo
2. Pohala’a Limboto
3. Pohala’a Suwawa
4. Pohala’a Boalemo
5. Pohala’a Atinggola

Dengan hukum adat itu maka Gorontalo termasuk 19 wilayah adat di Indonesia. Antara agama dengan adat di Gorontalo menyatu dengan istilah “Adat bersendikan Syara’ dan Syara’ bersendikan Kitabullah”. Pohalaa Gorontalo merupakan pohalaa yang paling menonjol diantara kelima pohalaa tersebut. Itulah sebabnya Gorontalo lebih banyak dikenal.

Pada tahun 1824 daerah Limo Lo Pohalaa telah berada di bawah kekusaan seorang asisten Residen disamping Pemerintahan tradisonal. Pada tahun 1889 sistem pemerintahan kerajaan dialihkan ke pemerintahan langsung yang dikenal dengan istilah “Rechtatreeks Bestur”. Pada tahun 1911 terjadi lagi perubahan dalam struktur pemerintahan Daerah Limo lo pohalaa dibagi atas tiga Onder Afdeling yaitu

  • Onder Afdeling Kwandang
  • Onder Afdeling Boalemo
  • Onder Afdeling Gorontalo

Selanjutnya pada tahun 1920 berubah lagi menjadi lima distrik yaitu :

  • Distrik Kwandang
  • Distrik Limboto
  • Distrik Bone
  • Distrik Gorontalo
  • Distrik Boalemo

Pada tahun 1922 Gorontalo ditetapkan menjadi tiga Afdeling yaitu :

  • Afdeling Gorontalo
  •  Afdeling Boalemo
  •  Afdeling Buol

Sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, rakyat Gorontalo dipelopori oleh Bpk. H. Nani Wartabone berjuang dan merdeka pada tanggal 23 Januari 1942. Selama kurang lebih dua tahun yaitu sampai tahun 1944 wilayah Gorontalo berdaulat dengan pemerintahan sendiri. Perjuangan patriotik ini menjadi tonggak kemerdekaan bangsa Indonesia dan memberi imbas dan inspirasi bagi wilayah sekitar bahkan secara nasional. Oleh karena itu Bpk H. Nani Wartabone dikukuhkan oleh Pemerintah RI sebagai pahlawan perintis kemerdekaan.

Pada dasarnya masyarakat Gorontalo mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi. Indikatornya dapat dibuktikan yaitu pada saat “Hari Kemerdekaan Gorontalo” yaitu 23 Januari 1942 dikibarkan bendera merah putih dan dinyanyikan lagu Indonesia Raya. Padahal saat itu Negara Indonesia sendiri masih merupakan mimpi kaum nasionalis tetapi rakyat Gorontalo telah menyatakan kemerdekaan dan menjadi bagian dari Indonesia.

Selain itu pada saat pergolakan PRRI Permesta di Sulawesi Utara masyarakat wilayah Gorontalo dan sekitarnya berjuang untuk tetap menyatu dengan Negara Republik Indonesia dengan semboyan “Sekali ke Djogdja tetap ke Djogdja” sebagaimana pernah didengungkan pertama kali oleh Ayuba Wartabone di Parlemen Indonesia Timur ketika Gorontalo menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur.

Berikut Video Klip Gorontalo Tempo Doeloe :

Courtesy By :

www.YouTube.com

By parbudkominfo Posted in Sejarah

MENARA KEAGUNGAN LIMBOTO

Galeri ini berisi 3 foto.


Posted by: admin | Fherdy Lumenta, A.Md Menara Keagungan Limboto terletak di jantung ibukota Kabupaten Gorontalo, Kecamatan Limboto. Letaknya tepat berada di simpang jalan raya trans limboto (Jl. Jend. Sudirman) dan Jl. Cokroaminoto dengan ketinggian mencapai 65 meter. Bagi yang … Lanjut membaca

By parbudkominfo Posted in Wisata

GALERY FOTO


This slideshow requires JavaScript.

Kiamat di Internet itu Hoax!


NASA: Kiamat di Internet itu Hoax!
Di post Nov 12, 2009

Kiamat konon bakal terjadi tanggal 21 Desember 2012. Sebagian anggota masyarakat sedikit banyak mempercayainya, didukung oleh kisah-kisah di internet, buku ataupun film yang memperkirakan hal itu memang bakal terjadi.

Klaim yang beredar menyebutkan, akhir zaman ini disebabkan oleh tabrakan antara planet X atau Nibiru dengan bumi. Peristiwa ini konon akan menciptakan bencana maha dahsyat.

Beberapa situs internet bahkan mencatut lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA. Dikatakan bahwa NASA sebenarnya tahu mengenai planet itu, tetapi merahasiakannya dengan berbagai alasan. Namun kini NASA akhirnya angkat bicara dan menyatakan semua cerita terkait kiamat 2012 sebagai ‘hoax internet’.

“Tidak ada dasar faktual dalam klaim tersebut,” demikian pernyataan khusus NASA di website resminya. “Jika tabrakan bakal terjadi, astronomer sudah akan melacaknya sedikitnya dalam 1 dekade terakhir, dan planet itu akan tampak dengan mata telanjang. Namun semua itu tidaklah eksis.”

Ditambahkan bahwa para ilmuwan dunia yang punya kredibilitas menyatakan tidak ada ancaman bagi bumi di tahun 2012. NASA juga menegaskan planet bumi sejak dahulu baik-baik saja, dalam periode miliaran tahun dan akan tetap seperti itu dalam waktu yang lama.

Sedangkan terkait berakhirnya kalender bangsa Maya, NASA menyatakan sesungguhnya kalender Maya tidak berakhir pada 21 Desember 2012. Akan tetapi saat itu adalah permulaan untuk periode berikutnya.

Mengenai isu tentang teori pembalikan magnet bumi yang dinilai bisa berakibat fatal, NASA juga membantahnya. “Sepengetahuan kami, pembalikan medan magnet itu tidak membahayakan kehidupan di bumi,” terang NASA.

Di pihak lain, sesepuh bangsa Maya modern di Guatemala dan Meksiko juga menyatakan prediksi kiamat itu ngawur. Dinilai, kiamat 2012 sengaja diciptakan untuk tujuan komersial bangsa barat dengan mengeksploitasi kebudayaan Maya. (Telegraph/Detik)

Info Galeri !


Microsoft Office 2010 Beta Sekarang Bisa Diuji Coba

Di post Nov 20, 2009 Email ke teman Cetak
Setelah menguji coba untuk para pelanggan MSDN dan TechNet Plus, Microsoft akhirnya merilis Microsoft Office 2010 Beta untuk dicoba siapa saja. Ketersediaan ini diumumkan dalam ajang Konferensi Developer Profesional 2009 di Los Angeles, AS, Kamis (19/11).

Untuk men-download versi Microsoft Office Professional Plus 2010 Public Beta bisa dilakukan langsung di situs Microsoft. Namun, produk ini hanya dapat dicoba bagi pengguna Windows Live karena saat masuk halaman download akan diminta memasukkan Windos Live ID.

Office 2010 Public Beta tersedia dalam versi 32 bit dan 64 bit. Masing-masing berukuran 684 MB dan 750 MB. Kedua paket tersebut sudah termasuk beberapa aplikasi seperti Word, Excel, Outlook, Powerpoint, OneNote, Access, Publisher, InfoPath, SharePoint, Workspace, dan Communicator.

Microsoft berencana merilis versi final Microsoft Office 2010 pada paruh pertama tahun depan. (kompas)